8 Tahun Formasy Praja Nusantara, Dorong Mitigasi Krisis Air dan Kesadaran Hukum Lingkungan

MALANG – Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Formasy Praja Nusantara (FPN) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 dengan menggelar kegiatan bertema “Cruak Gagak Nggrumut Semut: Hidup dengan Diri Sejati Seiring Kehendak Semesta dalam Ridho-Nya” di Dusun Dawuhan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jumat (6/6/2026).
Peringatan tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan organisasi yang sejak berdiri berkomitmen memperkuat nilai-nilai kebangsaan melalui pengamalan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Ketua Umum Dewan Majelis Nusantara (DMN) FPN, Dodik Purwoko, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir organisasinya fokus membangun kesadaran etika sosial dan kesadaran hukum terkait pemanfaatan sumber daya air, khususnya di kawasan hutan, sebagai upaya mitigasi krisis air untuk generasi saat ini maupun masa depan.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan lokal yang diharapkan memberikan dampak global. Mitigasi krisis air harus menjadi tanggung jawab bersama karena air merupakan kebutuhan dasar kehidupan manusia,” ujar Dodik.
Dalam kegiatan tersebut, FPN menggelar doa bersama dan pemotongan tumpeng di kawasan sempadan Sungai Brantas yang berdekatan dengan Sumber Air Sengkaling. Doa dilaksanakan secara serentak dan diikuti anggota FPN di berbagai daerah sebagai simbol persatuan gerakan dan harapan terciptanya ketenangan batin, kemakmuran hidup, serta keberlanjutan lingkungan.
Dodik menegaskan bahwa selain sebagai sarana silaturahmi dan diskusi warga, kegiatan tersebut juga menjadi media sosialisasi pentingnya kepatuhan terhadap regulasi pemanfaatan air permukaan maupun air tanah.
Menurutnya, pemanfaat dan pengguna air dengan volume tertentu untuk kepentingan usaha semestinya memiliki izin sesuai ketentuan perundang-undangan guna mencegah eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya air.
“Kesadaran menjaga air tidak semata karena adanya sanksi hukum, tetapi harus tumbuh sebagai bentuk tanggung jawab moral dan nilai ibadah demi keberlanjutan peradaban,” tegasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, aktivis lingkungan, serta anggota komunitas peduli air dari berbagai wilayah di Malang Raya.
Tokoh masyarakat sekaligus aktivis lingkungan Dusun Dawuhan, Abdul Kholil, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan HUT ke-8 FPN di wilayahnya.
“Atas nama warga dan Pemerintah Desa Tegalgondo, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kepedulian FPN terhadap upaya mitigasi krisis air. Kami mendukung penuh gerakan pelestarian alam dan sumber mata air demi masa depan negeri ini,” ujarnya.
FPN menyatakan kegiatan serupa akan terus dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari kampanye pelestarian sumber daya air dan penguatan kesadaran lingkungan masyarakat.
(Redaksi)