Semar Boyong: Ketika Nurani Negara Pergi dari Istana

Tuban, Aliansirakyatnews.com –
Negara boleh berdiri kokoh, kekuasaan boleh berjalan stabil, tetapi tanpa nurani, semuanya hanya menjadi bangunan kosong. Di situlah lakon Semar Boyong menemukan maknanya—sebuah kritik kultural terhadap kekuasaan yang menjauh dari rakyat kecil.
Menurut Dalang Ki Bayu Aji asal Rengel, Kabupaten Tuban, Semar Boyong bukan sekadar kisah pewayangan, melainkan cermin sosial yang terus relevan di setiap zaman.
“Semar itu lambang suara wong cilik. Kalau Semar boyong, artinya penguasa sedang kehilangan rasa keadilan,” ujarnya.
Dalam lakon tersebut, Semar meninggalkan istana bukan karena marah, melainkan karena kecewa. Para ksatria yang seharusnya menjadi pelindung rakyat mulai kehilangan kepekaan. Kebijakan tidak lagi berpijak pada kenyataan hidup rakyat, dan hukum kehilangan rasa empati.
Kepergian Semar menjadi peringatan sunyi: negara tetap berjalan, tetapi keadilan tertinggal. Kekuasaan tetap berdiri, tetapi kehilangan jiwa.
“Wayang itu bukan sekadar tontonan,” lanjut Ki Bayu Aji. “Ia adalah tuntunan. Semar Boyong mengajarkan bahwa kekuasaan harus berpihak pada wong cilik, bukan pada kepentingan sendiri.”
Di luar istana, Semar memilih mendampingi wong susah. Ia tidak membawa kekuasaan, tetapi keberpihakan. Ia tidak menjanjikan jabatan, tetapi menghadirkan keberanian untuk berkata benar. Di sanalah negara dikembalikan pada makna sejatinya: manusia.
Sementara itu, para Pandawa mulai merasakan kehampaan kekuasaan tanpa nurani. Negara tetap berdiri, tetapi runtuh dari dalam. Mereka akhirnya menyadari bahwa kekuasaan bukan untuk dijaga, melainkan untuk dibagikan dalam bentuk keadilan.
“Kekuasaan tanpa rasa akan menjauhkan rakyat dari negara,” tegas Ki Bayu Aji. “Dan negara yang menjauh dari rakyatnya sedang berjalan menuju kehancuran moral.”
Dalam pamungkas lakon, para ksatria mencari Semar bukan untuk memerintahkannya kembali, melainkan untuk memohon agar nurani kembali memimpin. Semar pun kembali, bukan karena kekuasaan memanggilnya, tetapi karena rakyat masih membutuhkan keadilan.
Lakon ini menegaskan satu pesan abadi:
bahwa negara hanya akan hidup selama ia berpihak pada yang paling lemah.
Oleh: M. Mursyid E