Sunday, 17-05-2026 08:30:50 am

Breaking News

Ayah Korban Pembunuhan Di Purwodadi Berharap Pelaku Segera Tertangkap
Home / / Detail berita

MBG SIMO, SOKO, TUBAN Mandek, Perut Anak Jadi Taruhan: Koordinator Program Dinilai Lalai, Siswa Jadi Korban

AliansiRakyatNews -
(322 Views) Senin, 2 Februari 2026 - 9:59


Tuban, Aliansirakyatnews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi tumpuan pemenuhan gizi anak-anak sekolah di wilayah Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, mendadak berhenti total.

Mulai Selasa, 3 Februari 2026, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Simo menghentikan seluruh distribusi makanan dengan alasan kendala pencairan dana.



Namun di lapangan, penghentian ini bukan sekadar urusan administratif. Dampaknya langsung menghantam anak-anak sekolah yang selama ini mengandalkan MBG sebagai sumber asupan harian. Sejumlah siswa tak mampu menyembunyikan kekecewaan.

“Biasanya dapat makan enak di sekolah, sekarang tidak ada. Saya sedih,” ujar seorang siswa dengan suara lirih.

Situasi ini menyorot kinerja pengurus dan koordinator MBG Soko yang dinilai lemah dalam mengantisipasi gangguan teknis.

Padahal, sehari sebelumnya, Senin (2/2/2026), program masih berjalan normal dengan menu lengkap dan bergizi: nasi kebuli, ayam goreng, tahu bumbu merah, acar kuning, hingga buah jeruk, disertai informasi nilai gizi. Namun dalam hitungan jam, layanan itu berhenti tanpa kejelasan kapan dilanjutkan.

Koordinator MBG Soko melalui pesan resmi ke sekolah dan wali murid menyatakan penghentian bersifat sementara sambil menunggu pencairan dana. Akan tetapi, ketiadaan skema cadangan atau mekanisme darurat justru memperlihatkan lemahnya manajemen program.

Orang tua murid menyayangkan sikap penyelenggara yang dinilai tidak siap menghadapi kendala teknis, meski menyangkut kebutuhan dasar anak.

“Anak saya biasanya makan dari sekolah. Kalau berhenti, kami harus menambah biaya lagi, sementara ekonomi sedang sulit,” ungkap salah satu wali murid.

Pertanyaan pun mengemuka: bagaimana mungkin program yang menyangkut perut anak-anak tidak memiliki rencana darurat? Jika distribusi bisa berhenti mendadak hanya karena persoalan administrasi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar operasional, melainkan tumbuh kembang generasi.

Penghentian MBG ini menjadi tamparan keras bagi pengurus dan koordinator pelaksana di tingkat lokal. Anak-anak tidak membutuhkan alasan teknis, mereka membutuhkan makan hari ini. Publik pun menunggu langkah nyata dari koordinator MBG Soko: perbaikan sistem, transparansi, dan jaminan bahwa hak anak atas gizi tidak lagi dijadikan taruhan oleh kelalaian pengelola.

Oleh: Redaksi

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
1
33%
wow
2
66%
sad
0
0%
angry



Categorised in: