Monday, 26-09-2022 11:03:40 pm

Breaking News

Ditemukan Mayat Tak Dikenal Di Desa Medini, Diduga Gelandangan
Home / / Detail berita

Petani Undaan Kudus Panen Padi, Tapi Mengeluh Soal….

AliansiRakyatNews -
(863 Views) Sabtu, 13 Januari 2018 - 2:33


Kudus, aliansirakyatnews.com – Sejak awal bulan Januari tahun ini para petani di Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus sedang tersenyum lebar. Mengapa demikian, karena mereka sedang menikmati masa panen raya padi.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya wilayah yang di juluki Lumbung Padi Kudus ini mengawali panen raya secara bergantian sesuai dengan hitungan waktu tanam yang menyesuaikan dengan aliran air yang berasal dari Waduk Kedung Ombo.

Saat ini Desa di wilayah Kecamatan Undaan yang pertama kali yang merayakan panen di antaranya Desa Kutuk dan Desa Glagah waru.



Ketua Kelompok Tani Sido Mukti Desa Glagah Waru, Syaekhu mengatakan, Para petani di desanya melaksanakan panen padi serentak dengan wilayah Desa lain yang pada waktu dulu mendapat giliran air pada masa awal.

“Petani di sini saat ini kebanyakan menggunakan benih yang digunakan varietas Ir 64 dan ketan. Karena di rasa oleh petani varitas tersebutlah yang paling cocok untuk daerah sini. Di sampung umurnya yang tidak terlalu panjang yaitu sekitar 90 hari setelah tanam, varitas tersebut juga tahan hama dan batangnya lebih kokoh” ujar Syaekhu.

Saat aliansirakyatnews coba menanyakan kepada Syaekhu tentang tentang wacana impor beras oleh pemeritah Syaekhu mengatakan,”Saya sedih mendengar rencana itu. Pasalnya saat ini memang harga gabah di tingkat Petani sedang bagus senilai Rp 5600/kilogram. Mungkin ini di karenakan cuaca yang cukup mendukung dan belum terlalu banyak daerah yang memasuki masa panen”.

Lebih lanjut,”tapi biasanya harga akan mengalami penurunan seiring semakin banyaknya daerah yang mulai panen raya, apabila di tambah cuaca yang tidak mendukung di pastikan harga gabahpun akan mengalami penurunan. Dan apabila Pemerintah jadi melakukan kebijakan impor beras, maka habislah nasib petani. Mengingat biaya produksi kami yang tinggi. Intinya apabila harga gabah tingkat petani di bawah Rp 4500/kilogram, Kami petani sudah rugi. “pungkas Syaekhu

Penulis : Kasrum

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry



Categorised in: